Tadi malam saya mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga lagi dari seorang kawan tentang kekuatan pikiran. Selepas shalat isya, saya beserta istri berkunjung kerumah kawan tersebut yang kebetulan letaknya hanya sekitar 50 meter dari kediaman kami. Selain untuk silaturrahmi, juga ada sebuah keperluan lain yang tentunya tidak penting untuk saya ceritakan, karena memang sangat tidak penting J.
Setelah ngobrol sana sini, entah bagaimana awalnya teman saya ini bercerita tentang pengalamannya diterima menjadi karyawan dari salah satu maspakai terbesar di negri ini. Mmmmm btw, berhubung kawan ini bercerita dengan menggunakan logat Papua, sepertinya juga lebih asik dan mengena jika tulisan ini dibumbui dengan logat Papua J. Setuju..??? Setuju tidak setuju… EPEN KAH..?? Hahahahahahaaaaaaayyyyyy.
Sa lanjut lagiE… (Sa itu adalah saya dalam istilah Papua yang disingkat, sedangkan “E” sengaja saya perbesar, karena itu merupakan penambahan istilah saja). Eh tunggu dulu, sebelum sa lanjut sa lupa nama sa pu kawan ini Nono, itu juga sengaja sa kasi palsu sedikit supaya tra terlalu kentara.
Sa pu kawan satu ini dia cerita waktu dia ikut tes di Jakarta. “Kawan, ko tau. Baru tes pertama saja sebenarnya sa su jatuh. Bemana tida’, kita ada tes tinggi badan minimal 165 cm untuk laki-laki. Ko liat sandiri toh, sa pu tinggi cuma 155”, kawan saya ini mulai da pu cerita. “ Begitu sa masuk ruangan, ada satu orang laki-laki tinggi – kayaknya dia juga boss disitu –, langsung dia kasi tunjuk ke tiang. Di tiang ada garis untuk batas tinggi badan. Sa su menger kawan, kalo sa tra lolos , jadi sa langsung datangi itu boss trus bilang, “OK bapak, saya keluar karena tinggi badan saya tidak mencukupi, tapi sebelumnya saya mau salaman dulu dengan bapak, karena tidak enak sudah jauh-jauh datang kesini tapi biar salaman dengan bapak juga tidak”. Eh, ko tau kawan - teman ini lanjut lagi -, tiba tu laki-laki dia suruh saya duduk dulu. Boss itu bilang, “ Duduk saja dulu, toh masih lama juga, kita cerita-cerita saja dulu”.
“ Kalau boleh tau, kenapa kamu tes dibagian ini ?”, boss itu mulai bertanya. Nono langsung jawab, “ Bapak, sebenarnya kalo ikut tes disini saya tidak ada uang untuk biaya sekolah, cuma karna saya dikasi biaya sekolah sama pemerintah makanya saya mau”. Itu boss langsung dia heran,” Betul begitu ? Kamu bisa buktikan.??.” Nono dengan pedenya bilang, “ Iya bapak, saya bisa kasi bukti. Kasi saya waktu 30 menit untuk telpon kesana, kalo perlu saya menelpon didepan bapak”. Trus Nono telpon da pu bapak untuk urus dia pu surat-surat. Nah, saya langsung potong Nono pu cerita, “ Eh kawan, ko betul-betul ada surat-surat kah..??”. Nono ketawa besar trus bilang, “ Sa lanjut cerita sajaE….”
OK lanjut. “ Pas sudah telpon sa pu pace, sa bilang sama itu boss. Bapak, sepertinya orang yang ada urus disana lagi sibuk karna ada pemeriksaan. Jadi saya minta waktu 1 hari untuk kirim berkas-berkas. Besok pagi semuanya sudah ada, jadi kalau bisa saya minta nomor fax disini biar nanti dikirim lewat fax saja”. Boss itu trus bilang “ Oh tidak usah, kamu tidak perlu kirim berkas-berkas kamu. Kamu boleh keluar dan ingat, jangan sampai handphone kamu tidak aktif karena kalau itu terjadi kami tidak bertanggungjawab”. Nono langsung bilang ke saya, “ Eh kawan, ko tau sa langsung senang karna sa su tebak kalo sa pasti lolos”. Saya potong lagi dia pu cerita karna masi penasaran, “ Ko pu berkas betul-betul ada kah.??”. Dia ketawa lagi, “ Kawan, ko tau, waktu sa salaman trus itu boss da ada suruh saya duduk cerita-cerita, sa su tau kalo sa pasti lolos karna sa su dapat dia pu slak “. (Slak maksudnya sela). Trus Nono lanjut lagi,” Apalagi sa sempat dengar dia bilang sama dia pu anak buah, INI DITAHAN DULU”.
Begitu sa keluar ruangan tes, sa langsung bilang sama sa pu kawan yang juga dia ada ikut tes kalo sa pasti lolos. Semua peserta yang ikut tes puluhan orang langsung liat saya. Sa cuek saja, sa langsung telpon sa pu pace bilang kalo minggu depan sa su kerja trus ditempatkan di sana, padahal belum ada keputusan. Hahahahahahaahha… Nono ketawa ngakak. Besoknya, kita datang lagi karena su dapat telpon kalo lulus untuk tes awal. Dari puluhan peserta tes, yang lolos tes selanjutnya tinggal 50 orang. Dan nantinya untuk wilayah Papua hanya diterima 6 orang, padahal masih ada 10 orang dari Papua. Tapi pas lagi rame-ramenya, waktu istirahat di kantin, sa pu hape bunyi. Trus sa bilang deng suara keras, “ Eh, kenapa ada telpon masuk ini baru da pu kode 021, jangan sampe ini dari boss kemarin mo bilang kalo sa su lulus”. Dengan pedenya sa angkat telpon, sambil sa kasi goyang-goyang kepala. “ Ok Pak, terima kasih banyak, besok saya pasti datang ”. Semua orang diruang langsung liat saya sambil baku sikut-sikut. Ternyata saya orang ke 3 yang ditelpon dan siang itu su ada 6 orang yang ditelpon. Nono, katanya langsung bilang lagi, “ Eh kawan, kenapa cuma kita 6 orang saja yang ditelpon jangan sampe yang tidak ditelpon itu tra lolos”. Peserta yang lain langsung baku liat-liat lagi. Trus Nono bicara lagi dengan pedenya, “ Kawan, sa su bilang dari hari pertama toh kalo sa pasti lolos, ditrima disni”. Teman Nono yang sama-sama lolos yang juga dari Papua kasi salam dia, “ Kawan, ko pu kata-kata sakti jugaE…”.
Singkat cerita, sampai sekarang Nono sudah bekerja diperusahaan itu kurang lebih 6 tahun. Bahkan, beberapa maskapai penerbangan – termasuk maskapai luar negeri – rebutan untuk menggunakan jasanya dengan tawaran penghasilan yang lebih tinggi. Sebelum saya pamit, dia sempat berkata, “ Wan, kita bisa tra punya uang untuk dapat apa yang kita mau, tapi kita masih punya otak untuk ambil apa yang kita mau”.
Bagi saya, kawan yang satu ini adalah sosok yang istimewa. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi tetapi berkualitas – karena banyak juga orang yang percaya diri tinggi tapi tanpa kualitas – ditambah dengan keyakinan yang sangat kuat untuk meraih cita-cita atau keinginannya.
Dalam perjalanan pulang saya berkata dalam hati: Wan, ko pu badan bole kecil, tapi ko pu niat deng ko pu kekuatan untuk mencapai sesuatu, sangat besar. Dan mungkin itulah yang di sebut Kekuatan Pikiran oleh banyak orang. Tapi masih ada satu pertanyaan yang bikin saya penasaran, Kawan. Ko pu istri itu cantik, tinggi , putih trus dia pu umur lebih muda 10 tahun dari koe ( Koe : Kamu ). Hmmmm, nanti lah kalo ada waktu sa mo tanya langsung deng koe, apakah itu juga karena ko pu keyakinan alias KEKUATAN PIKIRAN.